Mantra dalam Upacara Tradisi “Nelu Bulanin” di Desa Werdhi Agung Kecamatan Dumoga Tengah

Authors

  • I Made Windu Saputra Universitas Negeri Manado
  • Donal M. Ratu Universitas negeri Manado
  • Intama Jemy Polli Universitas negeri Manado

DOI:

https://doi.org/10.54065/dieksis.6.2.2026.1388

Keywords:

Mantra, Nelu Bulanin, Tradisi

Abstract

Urgensi penelitian ini adalah pentingnya mendokumentasikan dan mengkaji makna mantra dalam tradisi Nelu Bulanin sebagai upaya melestarikan nilai budaya, spiritual, dan kearifan lokal masyarakat Hindu di Desa Werdhi Agung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan isi dan makna mantra tradisional Nelu Bulanin pada masyarakat Hindu, khususnya di Desa Werdhi Agung, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow, serta mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter dan budaya sebagai bentuk pengetahuan mengenai fungsi-fungsi yang terkandung dalam tradisi Nelu Bulanin yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Desa Werdhi Agung, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra Nelu Bulanin mengandung doa untuk memohon keberkahan, perlindungan, serta penguatan spiritual bagi bayi. Tradisi ini memiliki makna yang mendalam sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas kelahiran seorang anak, sekaligus sebagai sarana penyucian, perlindungan spiritual, dan pemberian tuntunan agar bayi dapat tumbuh sehat dan sejahtera. Melalui upacara Nelu Bulanin, keluarga menanamkan nilai-nilai spiritual dan budaya yang kaya sekaligus mempersiapkan anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan memiliki rasa tanggung jawab. Tradisi ini juga mempererat ikatan keluarga dan sosial serta menjadi simbol hubungan anak dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu prosesi penting dalam tradisi ini adalah kontak pertama bayi dengan tanah (turun tanah) yang melambangkan hubungan anak dengan bumi dan lingkungan. Selain itu, tradisi ini menanamkan nilai kedisiplinan, rasa syukur, dan kesiapan dalam menghadapi tantangan kehidupan melalui upaya menciptakan keharmonisan antara tubuh, jiwa, dan alam semesta.

References

Andiopenta. (2022). Analisis struktur, fungsi dan makna mantra penunduk dan pelindung badan Suku Anak Dalam Jambi Kelompok Air Hitam Taman Nasional Bukit Duabelas Sarolangun Jambi. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 12(1), 165–171. https://doi.org/10.33087/dikdaya.v12i1.287

Arta, I. G. A. J., & Darsana, I. M. (2023). Harmoni keberagamaan: Analisis keberagamaan inklusif dalam Bhagawadgītā dan implikasinya pada kehidupan manusia dalam konteks global. Widya Katambung, 14(2), 139–149. https://doi.org/10.33363/wk.v14i2.1129

Budiadnya, P., & Sujaelanto. (2021). Agama Hindu pelestari budaya lokal. Widya Aksara: Jurnal Agama Hindu, 26(1), 122–131.

Candra, K., Noviyanti, L. P. E., & Nurlaily, K. (2018). Pemaknaan dan transmisi mantra Tri Sandhya pada remaja Hindu Bali di daerah Malang. Poetika: Jurnal Ilmu Sastra, 6(1), 44–54. https://doi.org/10.22146/poetika.35679

Fitri, E., Usman, U., & Abidin, A. (2026). Representasi Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi dalam Novel Mantra Pejinak Ular: Perspektif Sastra Profetik. Jurnal Dieksis ID, 6(1), 404–418. https://doi.org/10.54065/dieksis.6.1.2026.1348

Ghazali, D. N. M., & Kasmana, K. (2021). Perancangan informasi budaya mantra rahasia Jawa kuno melalui media buku ilustrasi. DIVAGATRA: Jurnal Penelitian Mahasiswa Desain, 1(1), 1–17. https://doi.org/10.34010/divagatra.v1i1.4866

Hariansyah. (2017). Mantra pesisir: Pertemuan tradisi dan “ilmu” masyarakat Islam pesisir. At-Turats: Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam, 11(1), 16–30. https://doi.org/10.24260/at-turats.v11i1.866

Hynson, M. (2021). A Balinese ‘call to prayer’: Sounding religious nationalism and local identity in the Puja Tri Sandhya. Religions, 12(8), 668. https://doi.org/10.3390/rel12080668

Kasmiati, K., Alwinsyah, A., Jumarti, J., & Purnawanto, E. (2024). Tradisi Lisan Sebagai Perekat Sosial dalam Menjaga Kerukunan dan Sakralitas Budaya Masyarakat Desa Siteba. Jurnal Dieksis ID, 4(2), 114–127. https://doi.org/10.54065/dieksis.4.1.2024.528

Malik, M., Firmansyah, A., Rusmawanti, R., & Andriyani, H. (2025). Mantra kematian dalam tradisi Akur Sunda Wiwitan: Tinjauan semiotik C. S. Peirce di Kampung Pasir. Sawerigading, 31(2), 429–440. https://doi.org/10.26499/sawer.v31i2.1616

Mustawan, M. D. (2022). Implementasi Tri Kerangka Dasar Agama Hindu guna meningkatkan sraddha dan bhakti pemuda Hindu Dusun Silirsari, Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi. Widya Aksara: Jurnal Agama Hindu, 27(1), 105–116. https://doi.org/10.54714/widyaaksara.v27i1.182

Nirmala, N. W. P. S. (2025). Makna simbolik tradisi Nelu Bulanin di Desa Dharma Agung Mataram: Studi pada masyarakat etnik Bali di Desa Dharma Agung Mataram Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tengah [Skripsi, Universitas Lampung]. Digital Library Universitas Lampung.

Pudja, G., & Sudharta, T. R. (2012). Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra). Widya Dharma.

Purnani, S. T., Yolanda, Y., Azizah, H. A., & Mutmainah, S. (2026). Manajemen literasi tradisi lisan: Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Cendekia Pendidikan, 5(2), 623–636. https://doi.org/10.36841/cendekiapendidikan.v5i2.8693

Santika, N. W. R. (2017). Pemahaman konsep teologi Hindu (perspektif pendidikan agama Hindu). Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu, 8(1), 87–97. https://doi.org/10.33363/ba.v8i1.303

Satria, I. K., & Pradnyan, N. P. D. (2021). Brata Penyanggra Ratu Wayan dan Ratu Ketut di Desa Adat Kedisan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni, 3(1), 47–62. https://doi.org/10.32795/widyanatya.v3i1.1683

Sidik, B., Afiati, L. N., & Sukandar, R. (2024). Mantra pengobatan masyarakat Sunda: Kajian struktur, konteks penuturan, dan fungsi, serta pemanfaatannya sebagai bahan ajar apresiasi sastra. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 11(1), 49–56. https://doi.org/10.33603/dj.v11i1.9924

Sudana, O., Ivan M. J., I. W. W., & Purnami S. P., D. (2022). Implementation of tree model in the development of E-Mantram Android application. Lontar Komputer: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi, 13(2), 117–127. https://doi.org/10.24843/LKJITI.2022.v13.i02.p05

Sulatra, I. K., & Pratiwi, D. P. E. (2024). Makna Pupuh Pucung ‘Bibi Anu’ pengiring ritual Nelu Bulanin masyarakat Hindu Bali. SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra, 16(1), 66–75. https://doi.org/10.36733/sphota.v16i1.8739

Sulistriani, J., Mursalim, M., & Dahlan, D. (2021). Mantra pada tradisi Minuman Pengasih dalam pernikahan Suku Dayak Belusu: Kajian folklor. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 5(1), 185–200. https://doi.org/10.30872/jbssb.v5i1.4629

Suwendra, I. W. (2025). Nilai-nilai pendidikan karakter dalam ritual tiga bulanan bayi di Desa Adat Banyuning, Kabupaten Buleleng, Bali. Jurnal Widya Sastra Pendidikan Agama Hindu, 8(1), 1–11.

Warta, I. N. (2025). Upaya pencegahan fundamentalisme agama dalam perspektif Hindu. Widya Aksara: Jurnal Agama Hindu, 30(1), 76–89. https://doi.org/10.54714/widyaaksara.v30i1.305

Yasa, I. N. K. (2024). Tradisi upacara tiga bulan menurut agama Hindu di Bali: Three months ceremony tradition according to Hindu religion in Bali. Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial, 5(1), 75–87. https://doi.org/10.59672/nirwasita.v5i1.3623

Published

2026-08-30

How to Cite

Saputra, I. M. W., Ratu, D. M. ., & Polli, I. J. . (2026). Mantra dalam Upacara Tradisi “Nelu Bulanin” di Desa Werdhi Agung Kecamatan Dumoga Tengah . Jurnal Dieksis ID, 6(2), 657–669. https://doi.org/10.54065/dieksis.6.2.2026.1388