https://pusdig.my.id/dieksis/issue/feedJurnal Dieksis ID2026-06-17T13:16:03+00:00Andi Karmanpusdig.id@gmail.comOpen Journal Systems<p align="justify"><a href="https://pusdig.my.id/dieksis/index"><strong>Jurnal Dieksis ID</strong></a> merupakan Jurnal atau publikasi karya ilmiah yang diterbitkan oleh <strong>Pustaka Digital Indonesia</strong>. Jurnal Dieksis ID mempublikasikan penelitian dalam bidang bahasa, linguistik, pembelajaran bahasa, sastra, seni, dan budaya. Ruang lingkup jurnal terdiri atas dua bidang kajian utama sebagai berikut:</p> <p align="justify"><strong><img src="https://pusdig.my.id/public/site/images/admin-ojs-liter451/chatgpt-image-dec-14-2025-02-29-05-am.png" alt="" width="1536" height="1024" /><br /><br />Scope 1: Kajian Bahasa, Linguistik, dan Pembelajaran Bahasa</strong></p> <ol> <li><strong>Linguistik Teoretis:</strong> Fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, analisis wacana, analisis percakapan, linguistik historis–komparatif, linguistik kognitif, sosiolinguistik, psikolinguistik, dan neurolinguistik.</li> <li><strong>Bahasa dan Penggunaannya:</strong> Deskripsi bahasa, variasi bahasa dan dialek, bahasa dalam media dan ruang publik, komunikasi digital, tindak tutur, serta fenomena kebahasaan kontemporer.</li> <li><strong>Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa:</strong> Metodologi pengajaran, pengembangan kurikulum, evaluasi dan asesmen, inovasi pembelajaran berbasis teknologi, literasi, bilingualisme, dan pembelajaran bahasa kedua.</li> <li><strong>Penerjemahan dan Linguistik Terapan:</strong> Teori dan praktik penerjemahan, interpretasi, terminologi, leksikografi, analisis kesalahan berbahasa, serta penerapan linguistik untuk kebutuhan profesional dan sosial.</li> </ol> <p align="justify"><strong>Scope 2: Kajian Sastra, Seni, dan Budaya</strong></p> <ol> <li><strong>Kajian Sastra:</strong> Analisis puisi, cerpen, novel, drama; kritik sastra; semiotika sastra; sastra bandingan; serta sastra lisan termasuk folklor, mitos, dan legenda.</li> <li><strong>Seni dan Estetika:</strong> Kajian seni pertunjukan, musik, tari, seni rupa, estetika, kreativitas artistik, proses produksi karya seni, dan pembacaan karya dalam berbagai medium.</li> <li><strong>Budaya dan Antropologi Budaya:</strong> Tradisi, ritual, praktik budaya, identitas budaya, akulturasi, budaya populer, budaya digital, serta studi masyarakat, perilaku, dan nilai-nilai budaya.</li> <li><strong>Interdisipliner Sastra–Seni–Budaya:</strong> Hubungan sastra dengan budaya, representasi seni dalam teks dan media, kajian budaya visual, narasi budaya dalam media sosial, serta eksplorasi interaksi budaya kontemporer.</li> </ol>https://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1315Interferensi Sosiolinguistik dan Tantangan Pedagogik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Tulis di SMA 2026-04-27T02:24:51+00:00Andi Muhammad Aqshal250001301037@student.unm.ac.idAgung Ramadhan M250001301038@student.unm.ac.idNensilianti Nensiliantinensilianti@unm.ac.idMuhammad Salehmuhammadsaleh.unm@gmail.com<p>Problematika penggunaan bahasa daerah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi isu yang semakin urgen di tengah tuntutan penguasaan bahasa baku pada jenjang pendidikan menengah. Interferensi bahasa lokal yang terjadi secara terus-menerus tidak hanya memengaruhi kemampuan menulis siswa, tetapi juga menimbulkan dilema pedagogik bagi guru dalam menyeimbangkan aspek preskriptif dan ekspresif bahasa. Penelitian ini mengkaji problematika pembelajaran Bahasa Indonesia dari dimensi sosiolinguistik dan pedagogik di SMA Negeri 18 Makassar. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini secara spesifik menyoroti kuatnya penetrasi dialek Melayu Makassar terhadap penguasaan sintaksis baku tulis siswa. Pemilihan subjek dilakukan melalui purposive sampling, dan keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil analisis taksonomis terhadap 10 korpus data teks eksposisi siswa menunjukkan tiga level interferensi yang masif: (1) interferensi morfologis berupa substitusi afiksasi baku menjadi prefiks lisan (na-, kasih-); (2) interferensi sintaksis melalui penyisipan multi-klitik (mi, ji, ki); dan (3) interferensi leksikal-fatis (tawwa, ndak). Temuan ini memunculkan dilema pedagogik bagi pendidik antara menjaga preskripsi tata bahasa atau memfasilitasi kelancaran berekspresi. Melalui kerangka sosiokultural, kajian ini merekomendasikan rekayasa pedagogik berbasis translanguaging di mana guru menggunakan teks terinterferensi sebagai instrumen analisis sosiopragmatik di kelas untuk membangun kesadaran register siswa, alih-alih menerapkan pedagogi preskriptif yang menindas.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Andi Muhammad Aqshal, Agung Ramadhan M, Nensilianti Nensilianti, Muhammad Salehhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1328Preserving Identity in a Globalized World: Strategies for Maintaining the Bugis-Makassar Language Based on Seminar Participants’ Perspectives2026-04-24T12:31:19+00:00Kembong Daengkembong.daeng@unm.ac.idIlma Rahimilma.rahim@unm.ac.idFatimah Yunusfatimah.yunus@unm.ac.idIta Rosvitaita.rosvita@unm.ac.idBungatang Bungatangbungtang@unm.ac.id<p>The rapid advancement of globalization has significanty impacted the sustainability of regional languages, including the Bugis-Makassar language, leading to a decline in its use among younger generations. This study aimed to examine strategies for maintaining the Bugis-Makassar language as a mother tongue in the context of globalization, focusing on participants’ perceptions of the International Mother Tongue Seminar. The study employed a descriptive quantitative approach supported by qualitative analysis to provide a comprehensive understanding of language awareness, attitudes, and preservation strategies. The study involved 120 respondents from diverse backgrounds, including students, academics, teachers, and the general public, selected through purposive sampling. The data were collected using a structured questionnaire based on a 5-point Likert scale, complemented by open-ended questions to capture deeper insights. The research instrument was tested for validity using Pearson Product Moment correlation and for reliability using Cronbach’s Alpha, yielding a coefficient of 0.87, indicating high internal consistency. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics, including mean, percentage, and standard deviation, while qualitative data were examined through thematic analysis. The findings revealed a high level of awareness among respondents regarding the importance of the Bugis-Makassar language as a cultural identity. However, a gap existed between awareness and actual language use, particularly in formal and digital contexts. The seminar was positively evaluated as an effective platform for raising awareness. Key strategies identified include integrating regional languages into formal education, strengthening intergenerational transmission, and utilizing digital media for language revitalization. In conclusion, although awereness of the importance of Bugis-Makassar language is relatively high, practical usage remains limited, indicating the need for more structured and sustainable preservation stategies supported by educational institutions and digital innovation.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Kembong Daeng, Ilma Rahim, Fatimah Yunus, Ita Rosvita, Bungatang Bungatanghttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1353Pembelajaran Menulis Teks Narasi Danau Tondano dengan Menggunakan Model Project Based Learning pada Siswa Kelas VII SMP Anugrah Tondano2026-06-05T04:43:24+00:00Selviana Ndruruselvianandruru2@gmail.comRuth Caroline Paathruthpaath18@gmail.comWimsje Relvin Palarwimsjepalar@unima.ac.id<p>Keterampilan menulis merupakan kompetensi produktif yang penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, tetapi siswa kelas VII SMP Anugrah Tondano masih mengalami kesulitan menyusun teks narasi yang runtut, lengkap, dan sesuai kaidah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model Project Based Learning dalam pembelajaran menulis teks narasi bertema Danau Tondano serta menganalisis peningkatan keterampilan menulis siswa. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung data kuantitatif sederhana. Subjek penelitian adalah 15 siswa kelas VII yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Data dikumpulkan melalui observasi proses pembelajaran dan tes unjuk kerja menulis teks narasi pada dua pertemuan. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan rubrik penilaian menulis yang mencakup aspek orientasi, komplikasi, resolusi, dan coda. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, serta perhitungan persentase capaian setiap aspek. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata dari 71,2% pada pertemuan I menjadi 78,15% pada pertemuan II. Aspek orientasi meningkat dari 76% menjadi 86,2%, komplikasi dari 73,6% menjadi 84,2%, resolusi dari 68,2% menjadi 71,4%, dan coda dari 67% menjadi 70,8%. Temuan ini menunjukkan bahwa Project Based Learning membantu siswa mengembangkan struktur cerita, mengaitkan pengalaman lokal dengan tulisan, dan meningkatkan keterlibatan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini terbatas pada subjek yang kecil dan dua kali pertemuan, sehingga penelitian lanjutan disarankan menggunakan waktu intervensi yang lebih panjang.</p>2026-07-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Selviana Ndruru, Ruth Caroline Paath, Wimsje Relvin Palarhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1402Illocutionary Speech Act Used in Online Classroom Via Zoom Meeting by the Teacher and Students2026-05-22T09:26:20+00:00Astita Maniwatyastitamaniwaty96@gmail.comSri Fatta MeldawatiSrifattameldawati@yapnasjp.ac.idSukmawati Sukmawatisukma.ati77@gmail.comSri Wahyunisriwhyunii944@gmail.com<p>The urgency of this research lies in the fact that Illocutionary Speech Acts used in online classrooms via Zoom meetings by teachers and students need to be understood to improve the effectiveness of virtual learning communication. This study examines illocutionary speech acts used by teachers and students in online classrooms conducted through Zoom meetings. The research is important because online learning during the Covid-19 pandemic changed classroom communication patterns and influenced how teachers and students interacted virtually. Understanding speech acts in online classrooms can help improve communication effectiveness in digital learning environments. This study applied a mixed-method approach combining quantitative and qualitative analysis. The population of the study consisted of utterances produced by teachers and students in an online classroom video uploaded on YouTube. The sample was selected purposively from a 57-minute online classroom interaction involving ninth-grade students. The research instrument was a transcription sheet based on the video subtitles. Data were collected through observation, watching the video repeatedly, transcribing the utterances, and classifying the data based on Searle’s taxonomy of illocutionary speech acts. The data were analyzed quantitatively by calculating the percentage of each speech act type and qualitatively by interpreting the functions of the utterances in the classroom context. The findings revealed that all five types of illocutionary speech acts were found in the online classroom interaction: assertive (50%), directive (34%), declarative (8%), expressive (6.9%), and commissive (1.1%). The study implies that assertive and directive speech acts play dominant roles in maintaining interaction and delivering information in online learning. In conclusion, online classroom communication through Zoom meetings involves various illocutionary speech acts, with assertive speech acts being the most frequently used by teachers and students.</p>2026-07-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Astita Maniwaty, Sri Fatta Meldawati, Sukmawati Sukmawati, Sri Wahyunihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1150Penerapan Strategi Mind Mapping untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa dalam Menulis Teks Drama Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia2026-04-10T13:25:26+00:00Istiqomah Putri Arvianaistiqomahputri034@gmail.comTiara Bening Indriyanitindriyani691@gmail.com<p>Kreativitas dalam menulis teks drama sering kali terhambat oleh kesulitan siswa dalam menggali serta mengorganisasi ide secara imajinatif. Rendahnya aspek ini menjadi urgensi bagi penelitian untuk menemukan solusi yang mampu meningkatkan kemampuan siswa menyusun alur dan dialog yang koheren. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat untuk merangsang kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas menulis teks drama siswa melalui strategi <em>Mind Mapping</em>. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (<em>library research</em>) dengan menelaah 12 sumber literature relevan yang dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan sintesis naratif. Hasil penelitian secara spesifik menunjukkan bahwa <em>Mind </em>Mapping membantu siswa memetakan alur, merancang karakter, dan menyusu dialog yang koheren, sehingga memicu peningkatan keluwesan (<em>flexibility</em>) dan orisinalitas ide dalam naskah. Selain itu, strategi ini terbukti meningkatkan partisipasi aktif siswa selama tahap pra-menulis. Penelitian ini memberikan wawasan teoretis bahwa <em>Mind Mapping</em> bukan sekadar alat visualisasi, melainkan strategi kognitif esensial yang sangat direkomendasikan untuk menjembarani ide abstrak menjadi struktur drama yang logis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Istiqomah Putri Arviana, Tiara Bening Indriyanihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1303Representation of Women in Leila S. Chudori's Novel Nadira: A Critical Discourse Analysis of Norman Fairclough's Model2026-04-27T02:29:22+00:00Muderika Syamsuddinmuderikasyamsuddinspd@gmail.comAslan Abidinaslanabidin@unm.ac.idUsman Usmanusmanpahar@unm.ac.id<p>Urgency of this research is to critically examine the representation of women in Leila S. Chudori’s novel Nadira through Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis model in order to uncover underlying gender ideologies and power relations embedded in the text. This study examines the representation of women in <em>Nadira</em>, a novel by Leila S. Chudori, using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis model. The analysis focuses on various formn of representation that appear through actions, events, states, and mental processes experienced by the female characters in the narrative. This research employes a descriptive qualitative method with reading and note-taking techniques to obtain relevant data from the text. The findings reveal that the representation of women in <em>Nadira</em> is constructed through lexical selection, metaphors, and narrative structures that highlight emotional struggles, power relations, and the psychological experiences of the characters. Through figurative language and vivid depictions of inner turmoil, the novel portrays women as individuals who confront social pressure, emotional instability, and processes of self-meaning. These findings affirm that language in literary works not only conveys stories but also constructs the positions and identities of women within their social contexts.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muderika Syamsuddin, Aslan Abidin, Usman Usmanhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1320Mengungkap Perlawanan Perempuan dan Subordinasi dalam Film Perempuan Berkelamin Darah Tahun 2023 melalui Lensa Feminis Radikal Kate Millet2026-05-05T09:27:39+00:00Ridwan Ridwanridwan@unm.ac.idNensilianti Nensiliantinensilianti@unm.ac.idLatifa Turohmalatifaturohma812@gmail.com<p>Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya mengungkap representasi subordinasi dan perlawanan perempuan dalam media film, guna memperkuat kajian feminisme radikal serta meningkatkan kesadaran kritis terhadap ketidakadilan gender dalam budaya populer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi representasi subordinasi serta resistensi perempuan dalam film Perempuan Berkelamin Darah (2023) dengan menggunakan kerangka pemikiran feminisme radikal yang digagas oleh Kate Millett. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui penelaahan terhadap adegan dan dialog yang terdapat dalam film. Analisis dilakukan berdasarkan konsep politik seksual Millett yang mencakup dimensi ideologi, pemaksaan, aspek psikologis, serta relasi ekonomi dan kekuasaan. Temuan dari penelitian ini mengungkap bahwa bentuk-bentuk subordinasi terhadap perempuan digambarkan melalui adegan kekerasan seksual, tindak kekerasan fisik, stigmatisasi psikologis, serta konstruksi ideologi patriarkil yang cenderung menyalahkan korban. Di sisi lain, film ini juga merepresentasikan beragam bentuk perlawanan dari tokoh perempuan sebagai respons terhadap dominasi patriarki. Dengan demikian, film ini tidak sekadar menyajikan gambaran penderitaan perempuan, melainkan juga berfungsi sebagai kritik terhadap sistem patriarkil yang menindas.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ridwan Ridwan, Nensilianti Nensilianti, Latifa Turohmahttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1348Representasi Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi dalam Novel Mantra Pejinak Ular: Perspektif Sastra Profetik2026-05-12T09:40:30+00:00Elsa Fitri250001301044@student.unm.ac.idUsman Usman250001301044@student.unm.ac.idAslan Abidin250001301044@student.unm.ac.id<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin pentingnya sastra profetik dalam mengungkap nilai-nilai kemanusiaan, sosial, dan spiritual di tengah krisis sosial kontemporer serta semakin kuatnya dominasi kekuasaan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai salah satu karya penting sastra Indonesia, novel Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo merefleksikan berbagai nilai profetik yang relevan dengan kehidupan sosial dan moral masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam novel melalui perspektif sastra profetik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Sumber data utama berupa teks novel, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan sastra profetik. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dengan teknik membaca dan mencatat, kemudian dianalisis melalui tahap identifikasi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai humanisasi direpresentasikan melalui upaya tokoh dalam menjaga martabat manusia di tengah tekanan kekuasaan dan birokrasi. Nilai liberasi tercermin dalam perlawanan tokoh terhadap dominasi dan ketidakadilan sosial, sedangkan nilai transendensi tampak melalui kesadaran spiritual tokoh serta ketergantungannya pada nilai-nilai religius dalam menghadapi konflik sosial. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa sastra profetik dapat berfungsi sebagai media pendidikan moral, kritik sosial, dan pembentukan karakter dalam pembelajaran sastra maupun kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, novel Mantra Pejinak Ular secara kuat merepresentasikan nilai-nilai profetik berupa humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai refleksi terpadu dari kesadaran kemanusiaan, sosial, dan spiritual.</p>2026-06-02T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Elsa Fitri, Usman Usman, Aslan Abidinhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1356Pembelajaran Nilai Moral Keberanian dan Kemandirian dalam Film Animasi Moana Kajian Pendidikan Karakter2026-06-05T04:51:59+00:00Hellen Syelomita Pungishellenpungis@gmail.comUus Martinus Kamajaya Al Katuuk M.Skamajaykatuuk@gmail.comIntama Jemy Poliiintamapolii@unima.ac.id<p>Perkembangan era digital membawa tantangan terhadap pembentukan karakter peserta didik sehingga diperlukan media pembelajaran yang kontekstual, menarik, dan dekat dengan kehidupan anak. Film animasi Moana (2016) dipilih karena memuat narasi perjuangan tokoh utama yang merepresentasikan keberanian dan kemandirian. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai moral keberanian dan kemandirian dalam film Moana serta mengkaji relevansinya terhadap pendidikan karakter. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data primer berupa dialog, adegan, tindakan tokoh, konflik, dan alur cerita dalam film, sedangkan data sekunder berupa buku dan artikel ilmiah tentang pendidikan karakter, kajian film, dan teori perkembangan moral. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi tidak langsung, pencatatan adegan, serta pengelompokan data berdasarkan indikator nilai keberanian dan kemandirian. Analisis dilakukan melalui reduksi data, klasifikasi tema, interpretasi makna, dan penarikan kesimpulan dengan dukungan Teori Pembelajaran Sosial dan Self-Determination Theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberanian direpresentasikan melalui kemampuan Moana menghadapi ketidakpastian, mengambil risiko, mempertahankan keputusan moral, dan menunjukkan empati dalam menyelesaikan konflik. Kemandirian direpresentasikan melalui kemampuan mengambil keputusan, belajar dari pengalaman, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi tindakan. Kedua nilai tersebut relevan untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi mandiri, bernalar kritis, dan bertanggung jawab. Penelitian ini terbatas pada analisis satu film, sehingga penelitian lanjutan disarankan menguji implementasinya dalam pembelajaran kelas.</p>2026-07-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Hellen Syelomita Pungis, Uus Martinus Kamajaya Al Katuuk M.S, Intama Jemy Poliihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1447Psikoanalisis Lirik Lagu dalam Album “Selamat Ulang Tahun” Karya Nadin Amizah dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di Sekolah2026-06-05T05:01:25+00:00Mirhel Taluminganmirheltalumingan@gmail.comSantje Irothmirheltalumingan@gmail.comOldie Stevie Meruntumirheltalumingan@gmail.com<p>Urgensi penelitian ini adalah mengungkap nilai psikologis dalam lirik lagu kontemporer sebagai media pembelajaran sastra yang relevan, reflektif, serta mendukung perkembangan karakter peserta didik. Lirik lagu kontemporer semakin relevan untuk dikaji sebagai teks sastra karena mencerminkan pengalaman emosional, pergulatan identitas, dan konflik psikologis yang dekat dengan kehidupan nyata peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek psikologis yang direpresentasikan dalam lirik lagu "Cermin", "Mendarah", "Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat", dan "Beranjak Dewasa" karya Nadin Amizah dalam album Selamat Ulang Tahun menggunakan perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis dokumen atau analisis isi. Data utama berupa lirik dari keempat lagu yang dipilih, sedangkan data pendukung diperoleh melalui studi kepustakaan yang berkaitan dengan teori psikoanalisis dan strategi pembelajaran sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat lagu tersebut merepresentasikan proses pendewasaan diri yang ditandai oleh konflik batin, luka emosional, ketakutan terhadap masa lalu, serta upaya menuju rekonsiliasi dengan diri sendiri. Berdasarkan perspektif psikoanalisis Freud, dinamika kepribadian dalam lirik lagu tercermin melalui interaksi antara id, ego, dan superego. Id tampak melalui dorongan emosional bawah sadar seperti kehilangan, kerinduan, ketakutan terhadap komitmen, dan kelelahan mental. Ego berfungsi sebagai aspek eksekutif kepribadian yang berupaya menyesuaikan dorongan-dorongan tersebut dengan prinsip realitas, sedangkan superego muncul dalam bentuk kesadaran moral, nilai-nilai sosial, dan standar ideal mengenai diri. Konflik-konflik tersebut juga mendorong munculnya mekanisme pertahanan ego yang lebih matang, seperti sublimasi, rasionalisasi, represi yang sehat, dan altruisme. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa lirik lagu karya Nadin Amizah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengayaan dalam pembelajaran sastra, khususnya pada materi apresiasi puisi dan analisis teks sastra kontemporer. Dengan demikian, album Selamat Ulang Tahun tidak hanya menjadi ekspresi artistik atas penderitaan emosional, tetapi juga merupakan media yang bermakna untuk memahami pertumbuhan psikologis dan mengembangkan pembelajaran sastra yang reflektif.</p>2026-07-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Mirhel Talumingan, Santje Iroth, Oldie Stevie Meruntuhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1313Dinamika Batin Tokoh Juan Pablo Castel dalam Novel Terowongan Karya Ernesto Sabato: Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud2026-04-27T02:31:38+00:00Nuriftitah Arsyadnuriftitaharsyad03@gmail.comAslan Abidinaslanabidin@unm.ac.idAndi Karmanandikarman1@gmail.com<p>Kompleksitas psikologis yang ditemukan dalam karya sastra eksistensial menawarkan wawasan mendalam mengenai anomali perilaku manusia, sehingga penting untuk mengkaji narasi-narasi tersebut guna memahami psikis manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika batin tokoh Juan Pablo Castel dalam novel The Tunnel karya Ernesto Sabato dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yang berfokus pada struktur kepribadian id, ego, dan superego. Analisis ini diarahkan untuk mengungkap bagaimana ketiga aspek psikologis tersebut membentuk perilaku tokoh, memengaruhi jalannya konflik, serta memberikan makna terhadap keseluruhan cerita. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan alur analisis yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui membaca dan mencatat kutipan-kutipan dalam novel yang menggambarkan dorongan instingtif, pertimbangan realistis, serta kontrol moral yang dialami oleh tokoh utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika batin Juan Pablo Castel terbentuk melalui interaksi yang tidak seimbang antara id, ego, dan superego. Id tampak mendominasi melalui dorongan spontan dan agresif yang mengendalikan tindakannya; ego terlihat dalam upayanya mempertimbangkan realitas sebelum bertindak; sedangkan superego muncul melalui rasa bersalah dan penyesalan setelah melakukan pelanggaran moral. Ketiga struktur kepribadian tersebut saling bertentangan sehingga menimbulkan konflik batin yang kompleks, yang pada akhirnya mendorong tokoh utama menuju tragedi. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada penerapan teori psikoanalisis Freudian dalam kritik sastra. Secara praktis, penelitian ini memberikan referensi yang bermanfaat bagi pembelajaran apresiasi sastra dan pendidikan karakter berbasis psikologi. Kesimpulannya, kejatuhan tragis Castel merupakan konsekuensi psikologis yang tak terelakkan dari dominasi id yang tidak terkendali atas batasan rasional dan moral.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nuriftitah Arsyad, Aslan Abidin, Andi Karmanhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1321Dekonstruksi Narasi Besar dalam Fiksi Ilmiah: Postmodernisme Lyotard terhadap Cerpen Ignoramus Karya Aveus Har2026-05-05T09:08:36+00:00Nensilianti Nensiliantinensilianti@unm.ac.idRidwan Ridwanridwan@unm.ac.idFitriya Husnafitrinurulhusna822@gmail.com<p>Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya pemahaman terhadap karya sastra kontemporer yang merefleksikan perubahan cara pandang manusia modern terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan realitas kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji cerpen <em>Ignoramus</em> karya Aveus Har melalui perspektif postmodernisme Jean-François Lyotard. Cerpen tersebut merepresentasikan kritik terhadap narasi besar (<em>grand narrative</em>) sains dan teknologi yang dianggap mampu menjelaskan serta mengendalikan kehidupan manusia. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan analisis teks, penelitian ini menyoroti tiga aspek utama postmodernisme yang tercermin dalam cerpen, yaitu kritik terhadap narasi besar, pluralitas narasi, dan ketidakpastian masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama, Stephen, menjadi simbol manusia modern yang menuhankan sains, namun justru menghadapi kehancuran ekologis dan eksistensial akibat keyakinannya terhadap rasionalitas mutlak. Selain itu, cerpen menampilkan pluralitas narasi antara manusia bionik yang kehilangan makna hidup dan manusia beriman yang menemukan harapan di tengah kehancuran. Gambaran dunia yang rusak dan penuh ambiguitas menegaskan pandangan Lyotard bahwa kemajuan ilmu pengetahuan justru melahirkan ketidakpastian terhadap klaim kebenarannya sendiri. Dengan demikian, cerpen Ignoramus mencerminkan semangat postmodern yang menolak kebenaran tunggal dan mengakui keberagaman makna serta pengalaman manusia dalam menghadapi masa depan.</p>2026-05-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nensilianti Nensilianti, Ridwan Ridwan, Fitriya Husnahttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1351Semiotika Feminisme Radikal: Konstruksi Penindasan dan Resistensi dalam Novel Kereta Semar Lembu2026-05-10T12:10:49+00:00Fina Damayanti250001301039@student.unm.ac.idUsman Paharusmanpahar@unm.ac.idAslan Abidinaslanabidin@unm.ac.id<p>Urgensi penelitian ini adalah mengungkap konstruksi penindasan patriarki dan representasi resistensi perempuan dalam novel Kereta Semar Lembu melalui perspektif Radical Feminism semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis novel Kereta Semar Lembu karya Zaky Yamani melalui perspektif semiotika feminisme radikal. Analisis ini berfokus pada penindasan patriarkal, kontrol terhadap tubuh perempuan, serta representasi perlawanan radikal yang tertanam dalam sistem semiotik naratif novel tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan tiga proses analisis, yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan dengan mengumpulkan data berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf dari objek penelitian. Penelitian ini menemukan bahwa ketidakadilan gender yang dialami tokoh-tokoh perempuan dalam Kereta Semar Lembu dimanifestasikan melalui berbagai simbol semiotik. Penindasan tersebut tercermin melalui tanda-tanda eksploitasi tubuh yang berakar pada struktur patriarki yang mengakar kuat. Selain itu, novel ini menghadirkan perspektif feminisme radikal melalui tindakan tokoh-tokoh perempuan yang berjuang untuk membongkar dominasi laki-laki dan merebut kembali otonomi mereka sendiri. Analisis semiotik menjelaskan bagaimana penggunaan bahasa, mitologi, dan tanda-tanda dalam novel ini sekaligus merefleksikan serta menantang realitas ketimpangan gender dalam masyarakat. Penelitian mengenai semiotika feminis dalam sastra Indonesia masih cenderung berfokus pada representasi perempuan secara umum dan belum secara khusus mengkaji bentuk-bentuk penindasan serta perlawanan perempuan melalui perspektif feminisme radikal dalam novel Kereta Semar Lembu. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengungkap konstruksi tanda-tanda patriarki dan bentuk-bentuk perlawanan perempuan yang direpresentasikan dalam teks sastra kontemporer. Dengan demikian, novel ini dipandang mampu menggambarkan perlawanan perempuan terhadap dominasi patriarki sekaligus menonjolkan nilai-nilai feminisme radikal melalui representasi semiotik yang tertanam dalam narasinya.</p>2026-06-02T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Fina Damayanti, Usman Pahar, Aslan Abidinhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1389Analisis Makna Motivatif Drama Twenty Five Twenty One Karya Kwon Do Eun dalam Perspektif Olahraga Anggar Berbasis Pendidikan Karakter2026-06-05T04:56:17+00:00Syeren Indah Lestari Hudaindahhuda04@gmail.comIntama Jemy Poliiindahhuda04@gmail.comOldie Stevie Meruntuindahhuda04@gmail.com<p>The urgency of this research lies in the importance of examining drama media as a means of building motivation and character education in the younger generation.Amidst various current social challenges, such as declining learning motivation,low mental resilience,and the decline of character values like discipline and responsibility,media are needed that are not only entertaining but also capable of providing positive learning.This study aims to analyze the motivational meaning in the drama Twenty Five Twenty One by Kwon Do Eun from the perspective of fencing sports based on character education.The study uses a qualitative approach with content analysis method. Data sources are in the form of dialogues and scenes relevant to motivational meaning and character education values. Data collection techniques were carried out through watching the drama thoroughly, carefully examining, and recording data related to the focus of the study.Data analysis techniques include data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions.The results show that there are 6 motivational meanings: (1) motivation to maintain dreams, (2) belief in one's own abilities and hope for the future, (3) positive interpretation of defeat experiences, (4) self-confidence in facing pressure, (5) mental and emotional strengthening,and (6) the importance of solidarity and togetherness. It can be concluded that the drama Twenty Five Twenty One not only functions as entertainment,but also as an educational medium containing motivational messages and character education values relevant to the younger generation. These findings confirm that digital drama as an audiovisual medium is capable of conveying motivational meanings that are aligned with character education values such as persistence,self-confidence,resilience,self-control,empathy,and solidarity.</p>2026-07-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Syeren Indah Lestari Huda, Intama Jemy Polii, Oldie Stevie Meruntuhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1482Analisis Gaya Bahasa Cerpen Senyum Karyamin dan Jasa-jasa Buat Sanwirya Karya Ahmad Tohari serta Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMP2026-06-17T13:16:03+00:00Kezia Konehekeziakonehe@gmail.comOldie S. Meruntuoldiemeruntu@unima.ac.idViktory N. J. Rottyviktoryrotty@unima.ac.id<p>Teaching short story analysis for junior high school students often does not prioritize the examination of writing style, which limits student understanding. Ahmad Tohari's writing uses a choice of writing style to express meaning, convey social criticism, and foster empathy. The purpose of this study is to analyze the language style contained in Ahmad Tohari's short stories, especially Smile Karyamin and Jasa-jasa Buat Sanwirya, and to explore its influence on the teaching of short stories in junior high school. This study uses a library study methodology. The research location is the library. The research time is from November 2025 to February 2026. The data source for this study is the Smile Karyamin Short Story Anthology by Ahmad Tohari. The data analysis technique follows the steps of the content analysis technique. The language style data analysis technique is based on Gorys Keraf's theory. The results of the study show that the short story "Senyum Karyamin" uses various language styles, namely comparison (personification, metaphor, association), opposition (hyperbole, paradox), affirmation (repetition), and satire (irony and cynicism), also found euphemism. Meanwhile, the short story "Jasa-jasa Buat Sanwirya" utilizes comparative language styles (personification and association), contrast (hyperbole and litotes), and satire (irony and cynicism) that frequently appear in the characters' dialogues. The results of this study have implications for short story teaching in junior high schools, particularly in contextually teaching language styles to make learning more applicable and meaningful for students.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Kezia Konehe, Oldie S. Meruntu, Viktory N. J. Rottyhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1198Code-Mixing as an Expressive Strategy in Digital Spoken: A Case Study of Maudy Ayunda’s YouTube Channel2026-02-13T11:43:55+00:00Citra Ratu Angelia Mustika Saricitraratuams13@gmail.com<p>This study investigates the use of expressive code-mixing in Maudy Ayunda’s YouTube discourse, focusing on how bilingual language practices function as a medium for emotional expression and reflective storytelling in digital communication. Grounded in sociolinguistic theory, this research employs a qualitative descriptive method and adopts typology of code-mixing, which categorizes code-mixing into Insertion, Alternation, and Congruent Lexicalization. The data were collected from selected reflective videos on Maudy Ayunda’s YouTube channel and analyzed through transcription, identification, and contextual interpretation of code-mixed utterances. The findings reveal that Insertion is the most dominant type of code-mixing, accounting for 56.25% of the data, followed by Alternation at 43.75%, while Congruent Lexicalization was not found. These results indicate that Indonesian functions as the matrix language, with English serving as a complementary linguistic resource. Beyond structural patterns, the study demonstrates that code-mixing performs a significant expressive function. English elements are frequently employed to articulate emotions such as stress, relief, self-awareness, motivation, and emotional reassurance. Insertion is commonly used to intensify emotional states and describe complex psychological experiences, whereas Alternation allows the speaker to deliver reflections, evaluations, and conclusions more emphatically. The study concludes that code-mixing in Maudy Ayunda’s YouTube discourse extends beyond linguistic variation and operates as a strategic expressive tool that fosters emotional engagement and audience connection. This research contributes to sociolinguistic studies by highlighting the expressive and pragmatic roles of code-mixing in digital bilingual communication.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Citra Ratu Angelia Mustika Sarihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1192Language and Gender Representation in Kate Chopin’s the Story of An Hour2026-02-12T12:18:24+00:00Vivi Novalia Sitinjakvivisitinjak.n@gmail.comNatalia br. Surbaktigracenataliasurbakti@gmail.comCindy Margaretta Br Sianturicindymargareta82@gmail.comGeby Amanda Sihombingmidnightrain1608@gmail.com<p>The urgency of this research lies in examining language and gender representation in The Story of an Hour to uncover how Kate Chopin challenges patriarchal ideology and constructs female autonomy through narrative discourse. This study examines how linguistic features construct gender representation in Kate Chopin’s The Story of an Hour. While previous studies have largely focused on feminist themes and ideological interpretations, limited attention has been paid to the linguistic mechanisms through which gender ideology is articulated. Addressing this gap, this study applies feminist linguistics and Critical Discourse Analysis to explore how language reflects women’s emotional experience and social position within a nineteenth-century patriarchal context. Using a qualitative research design, data were collected through documentation of the short story text and analyzed through close reading. Linguistic features such as lexical choices, figurative language, imagery, narrative voice, and discourse structure were examined. The findings reveal that female experience is represented through indirect and emotive language, with freedom portrayed as an internal and temporary realization. Narrative voice confines women’s expression to private consciousness, while authoritative discourse reinforces patriarchal interpretations. Nevertheless, narrative irony enables subtle resistance. Overall, this study concludes that gender ideology in The Story of an Hour is not simply conveyed through thematic content but is fundamentally constructed through linguistic choices, narrative voice, and discourse structures. By foregrounding language as a site of power and resistance, the study highlights the crucial role of linguistic analysis in uncovering how gendered meanings are produced, sustained, and subtly challenged in literary texts.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Vivi Novalia Sitinjak, Natalia br. Surbakti, Cindy Margaretta Br Sianturi, Geby Amanda Sihombinghttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1201Character Identity Contruction through Linguistic Variation in Sherlock Holmes: A Third Wave Sociolinguistic Reading2026-02-13T12:00:10+00:00Tiara Julia Putritiarajuliaputri281@gmail.com<p>This study is urgent because it reveals how linguistic variation in Sherlock Holmes constructs and represents character identity through a Third Wave sociolinguistic perspective, thereby enriching our understanding of the relationship between language, identity, and social meaning in literary works. This study explores how Sherlock Holmes’ character identity is intricately formed through linguistic variation, using the Third Wave sociolinguistic framework as the primary analytical tool. This research bridges classical literary studies with modern sociolinguistic perspectives, which view identity as a performative and strategic social practice rather than a fixed psychological trait. The objective of this research is to examine how identity is constructed and performed as a strategic social practice by integrating classical literary analysis with contemporary sociolinguistic perspectives, rather than treating identity as a fixed psychological attribute. Employing a descriptive qualitative method, this study analyzes 45 selected excerpts from Sir Arthur Conan Doyle’s “The Adventures of Sherlock Holmes,” with specific attention to technical registers, formal stance, and stylistic variation. The findings reveal a consistent pattern of “stylistic practice” where Holmes utilizes specific scientific terminology, such as chemistry and forensics, to demonstrate intellectual prowess and epistemic authority over his interlocutors. Furthermore, this analysis highlights Holmes’ capacity for “style-shifting,” where he adeptly alternates between high-formal Victorian registers and colloquial language to navigate and manipulate the rigid 19th-century social structures. Unlike previous studies analyzing social class through First Wave reflections, this research demonstrates that Holmes is a dynamic project, actively “constructed” through language to manage social distance and control interactional space. These findings reinforce the argument that linguistic variation is essential in creating social meaning within fictional narratives, offering significant interdisciplinary implications for English literature and sociolinguistics. This study serves as a profound theoretical resource for understanding how professional identities are indexed and maintained linguistically across various media and historical contexts, while affirming the relevance of Third Wave theory in literary studies.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Tiara Julia Putrihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1196Incongruity in Interaction: A Muysken-Based Typological Analysis of Code-Mixing as a Humorous Device in Lapor Pak!2026-02-13T10:57:25+00:00Hilya Fitriatuz Zahrahilyafitriatuzzahra@gmail.com<p>In contemporary Indonesian media, code-mixing has become an increasingly prominent linguistic practice, particularly in entertainment programs where language is creatively manipulated to engage audiences. This study aims to analyze the forms and social functions of Indonesian–English code-mixing used by comedians in the television program Lapor Pak!, as well as to examine how these linguistic structures are strategically employed as instruments for creating humor. The research employs a qualitative descriptive method, with data sourced from three selected videos on the @7comedy YouTube channel through observation and note-taking techniques. The analysis is grounded in Pieter Muysken’s typology of code-mixing, Hoffman’s and Wardhaugh’s sociolinguistic theories, and Salvatore Attardo’s Incongruity Theory. The findings reveal that code-mixing in the program is dominated by the insertion type, followed by alternation and congruent lexicalization. These linguistic choices serve various sociolinguistic functions, including affective functions to express emotion, phatic functions to maintain social interaction, and the use of technical terms to build specific character personas. Comedians strategically use English not only as a communication tool but also as a comedic instrument. Humor arises from the incongruity between the formal or serious nature of the English terms and the absurd or trivial context of the comedic sketches. Overall, this study demonstrates that Indonesian English code-mixing in Lapor Pak! is not a random linguistic practice but a deliberate comedic strategy that simultaneously constructs humor, negotiates social identity, and reflects contemporary sociolinguistic dynamics.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Hilya Fitriatuz Zahrahttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1197A Sociolinguistic Study of Lifestyle and Language Change among Young Adults2026-02-13T11:27:37+00:00Firda Sarah Latifahfirdasarahlatifah@gmail.com<p style="margin-left: 36.0pt; text-align: justify;"><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Arial Nova Cond','sans-serif';">This study explores the relationship between lifestyle patterns and language change among young adults using a sociolinguistic approach. Language change is viewed as a socially driven process influenced by everyday interaction, media exposure, and engagement with contemporary trends. The objectives of the study include describing the lifestyle characteristics of young adults, identifying patterns of language use in daily interaction, and analyzing the contribution of lifestyle to linguistic variation and evolution. A descriptive quantitative method was employed, using a structured online questionnaire as the primary data collection instrument. Data were collected over a three-week period from 31 participants aged 18–26 from diverse social backgrounds. The findings indicate that participants with more dynamic and modern lifestyles tend to exhibit higher levels of linguistic variation, including frequent use of informal language, code-mixing, and the adjustment of speaking styles according to interlocutors and social situations. The results also indicate variation in language use across domains, particularly in family and social contexts, reflecting the respondents’ sociolinguistic awareness. These findings demonstrate that language change among young adults does not occur randomly but is closely linked to lifestyle, patterns of social interaction, and exposure to digital media. This study contributes to the field of sociolinguistics by providing empirical evidence of the role of lifestyle as a key social factor influencing language change and by emphasizing the importance of everyday social practices in shaping contemporary language use.</span></p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Firda Sarah Latifahhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1187Gendered Language and Patriarchal Control in Jamaica Kincaid’s Girl (1978): A Feminist Discourse Analysis2026-02-27T13:38:15+00:00Bella Renata Br. Manalurenatamanalubella@gmail.comRoselyn Gracia Sitompulroselynsitompul2005@gmail.comKatarina Aureli Fionakatarinafiona23@gmail.comEnjelina Rointan Ambaritaenjelirointanambarita@gmail.comVivi Novika SitinjakVivisitinjak.n@gmail.com<p>The urgency of this study lies in its critical examination of how gendered language functions as a tool of patriarchal control in Jamaica Kincaid’s Girl (1978), revealing how linguistic practices shape female identity, social expectations, and power relations within a cultural context. This study examines gendered language in Jamaica Kincaid’s short story Girl (1978) by focusing on how linguistic forms function as mechanisms of social control over women. Rather than treating gendered language as a general phenomenon, this research specifically analyzes the dominance of imperative sentences, repetition, and normative diction used by the mother figure to construct female identity within a patriarchal cultural framework. Using a qualitative descriptive method and feminist discourse analysis, the study identifies how directives and prohibitions directed at the female subject reflect expectations of obedience, domestic responsibility, and moral discipline. The findings reveal that language in Girl does not merely mirror gender norms but actively reproduces them by normalizing patriarchal values through everyday maternal discourse. The study concludes that Kincaid’s Girl demonstrates how language operates as an ideological tool that shapes and limits women’s identities, highlighting the importance of feminist linguistic analysis in literary studies.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Bella Renata Br. Manalu, Roselyn Gracia Sitompul, Katarina Aureli Fiona, Enjelina Rointan Ambarita, Vivi Novika Sitinjakhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1171The Difference In Meaning Of “Flirting” In The Gender Mirror (Women And Men)2026-02-27T13:21:46+00:00Elizabeth Sitiogailistelizabeth@gmail.comSupraini Siagiangailistelizabeth@gmail.comRachel M. Sihombinggailistelizabeth@gmail.comMaria Cinta Br Manullanggailistelizabeth@gmail.comVivi Sitinjakgailistelizabeth@gmail.com<p>The urgency of this study lies in examining the gendered differences in the meaning of “flirting,” revealing how social norms and gender identity shape interpretation, with implications for linguistic and discourse analysis. Flirting is a common yet complex form of interpersonal communication that functions as a socially and linguistically mediated act. Although it is often treated as a universal behavior, previous studies demonstrate that the meaning and interpretation of flirting differ significantly across genders. His study aims to examine differences in the meaning of ‘flirting’ between men and women by positioning flirting as a speech act shaped by gender performativity, social context, and linguistic ambiguity. This study employs a qualitative descriptive approach using discourse analysis to explore how meaning is constructed in interaction. Data sources include prior empirical journal articles and discourse examples from both offline and online communication contexts. Data were collected through documentation and systematically selected based on relevance to the research focus. The analysis involved data reduction, categorization of linguistic features, and contextual interpretation. To ensure trustworthiness, the study applied theoretical triangulation, repeated close reading, and peer debriefing to enhance credibility and reduce researcher bias. The findings reveal that men tend to interpret flirting as an explicit signal of romantic or sexual interest, while women more frequently understand it as a form of friendliness, relational bonding, or playful interaction. This divergence highlights a gap between dominant theoretical explanations and real-life communicative practices. The study contributes to flirting research by emphasizing language as the central mechanism through which flirtation is produced, negotiated, and misinterpreted. It also proposes that ambiguity is not a weakness of flirting, but its defining feature, allowing participants to manage desire, politeness, and social risk simultaneously.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Elizabeth Sitio, Supraini Siagian, Rachel M. Sihombing, Maria Cinta Br Manullang, Vivi Sitinjakhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1203Gender Differences In Question Tags And Performative Utterances In Enola Holmes2026-02-25T09:49:23+00:00Yohana Andrea Manalubluecatharine6@gmail.comFindi Manikfindimanik12@gmail.comPrima Jaya Daeliprimajayadaeli2003@gmail.comRomaito Br Marbunromaitomarbun75@gmail.comVivi Novalia Sitinjakvivisitinjak.n@gmail.com<p>This study examines gender differences in the use of question tags and performative utterances in the film Enola Holmes (2020). Using Jennifer Coates’ theory of gender and language and speech act theory, the research examines how these linguistic features function in relation to power, politeness, and identity construction within a patriarchal Victorian context. A qualitative descriptive method was employed, with data taken from the film script and analyzed through pragmatic and textual approaches. The findings show that female characters, particularly Enola Holmes, use question tags more frequently and for diverse pragmatic functions, such as emotional confirmation, rhetorical questioning, and negotiation of meaning. These uses are not signs of uncertainty but serve as strategic interactional resources to assert agency and challenge male authority. Male characters tend to use more performative utterances in the form of commands, reflecting their institutional power. Overall, the study supports the view that gendered language differences are socially constructed.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Yohana Andrea Manalu, Findi Manik, Prima Jaya Daeli, Romaito Br Marbun, Vivi Novalia Sitinjakhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1184The Role of Jargon in Wuthering Waves Discord Community: A Sociolinguistic Study2026-02-08T12:50:51+00:00Hardi Suhardihrdshrd04@gmail.com<p>This study aims to analyze the forms of jargon and examine differences in jargon usage between casual players and lore seekers within the Wuthering Waves Discord community. The research adopts a descriptive qualitative approach, with data collected from 19 screenshots of Discord interactions that represent naturally occurring communication among community members. From these data, 24 jargon terms were identified as the primary focus of analysis. The collected data were examined using contextual interpretation to understand meaning in use, followed by classification based on linguistic form. The findings indicate that the jargon used in the community can be categorized into several forms, including single words, multi-word phrases, and abbreviations. Beyond form, the study also reveals clear variation in jargon usage based on player type. Casual players predominantly use jargon related to gameplay mechanics, character builds, strategies, and efficiency during play. In contrast, lore seekers tend to employ jargon associated with narrative elements, world-building concepts, and the game’s fictional universe. These findings demonstrate that jargon functions not only as a tool for efficient communication, but also as a reflection of players’ social roles, interests, and levels of engagement. Overall, this research contributes to a deeper understanding of language variation in online gaming communities and highlights the relationship between participation patterns and linguistic choice. This study shows that language variation in online gaming communities is shaped by participation patterns, revealing how engagement type and frequency influence players’ linguistic choices and reflect social interaction dynamics.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Hardi Suhardihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1202The Influence Of Public Figure Syahrini's Jargon On Digital Slang Innovation And The Evolution Of The National Language On Social Media2026-02-14T04:40:53+00:00Khadeja Gina Alifiaginakhadeja@gmail.com<p>This study is important to understand how public figure Syahrini’s jargon influences digital slang innovation and contributes to the dynamics and evolution of the national language on social media. This study aims to identify and analyze unique language variations, or idiolects, that appear on YouTube channels, with a particular focus on The Princess Syahrini channel, and to explore their impact on digital linguistic trends. In today’s digital era, social media has significantly transformed patterns of verbal interaction, providing spaces where spontaneous speech by public figures serves as a medium of authentic self-expression and a strategic tool for reinforcing personal branding. This study employs a qualitative descriptive approach with the research subject consisting of naturally occurring spoken interactions captured in video recordings, while the unit of analysis is spontaneous speech units produced by participants during social interaction. Data were collected through systematic video observation, followed by manual transcription and analyzed using detailed coding techniques to identify linguistic and interactional patterns. Data validity was ensured through repeated review of the video recordings, careful verification of transcriptions against the audiovisual data, and consistent application of analytical categories to maintain accuracy and reliability of the findings. The analysis revealed twelve consistently used idiolectal jargons, including expressions such as “Cetar membahana” and “Maju kembali cantik”, which function not only as communicative tools but also as effective strategies for projecting a distinctive public persona. These findings demonstrate that celebrity idiolects act as a primary driver of digital slang innovation, influencing how young audiences communicate online and contributing to the development of hybrid language practices. Furthermore, the study highlights that such idiolects play a role in shaping the evolution of the national language in digital contexts, illustrating how individual linguistic creativity in media environments can extend its impact to broader sociolinguistic trends and contemporary communication norms.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Khadeja Gina Alifiahttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1185Kritik Akal dan Sumber Pengetahuan dalam Perspektif Al-Ghazali dan Kant2026-02-03T03:46:07+00:00Hadi Supratmanhadiortega202@gmail.comMuhammad Basith Abasithalfa13@gmail.comMasdar Helmibakorpadpp@gmail.comZamzami Islamyabuabdillah662@gmail.comSiti Mahmudah Noorhayatinoorhayatimahmudah@gmail.com<p>Kajian ini bertujuan untuk menganalisis kritik akal dan sumber pengetahuan dalam perspektif Al-Ghazali dan Immanuel Kant sebagai dua tokoh penting dalam tradisi filsafat Islam dan filsafat Barat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan paradigma epistemologis antara pemikiran Islam yang mengintegrasikan wahyu dan rasio dengan pemikiran Barat modern yang menempatkan akal sebagai pusat pengetahuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (<em>library research</em>) dengan pendekatan komparatif-filosofis. Data diperoleh dari karya-karya utama Al-Ghazali dan Immanuel Kant serta literatur pendukung yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Ghazali mengajukan kritik terhadap keterbatasan akal manusia dengan menegaskan peran wahyu dan intuisi spiritual sebagai sumber pengetahuan yang sah, sementara Kant melakukan kritik terhadap akal melalui penetapan batas-batas rasio dalam memperoleh pengetahuan metafisis. Perbedaan pandangan ini menunjukkan karakter epistemologi yang khas dan berimplikasi pada cara memahami kebenaran, moralitas, dan proses pendidikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa meskipun Al-Ghazali dan Kant sama-sama melakukan kritik terhadap akal, keduanya berangkat dari landasan filosofis yang berbeda, sehingga menghasilkan konsep sumber pengetahuan yang tidak sama namun sama-sama relevan sebagai bahan refleksi dalam pengembangan pemikiran pendidikan yang kritis dan etis.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Hadi Supratman, Muhammad Basith A, Masdar Helmi, Zamzami Islamy, Siti Mahmudah Noorhayatihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1162Code Mixing in Reizuka Ari’s TikTok Vlogs: An Analysis of Indonesian–English Language Use2026-01-31T13:09:47+00:00Nita Fauziahnitafzh26@gmail.com<p>This research is urgent because analyzing code mixing in Reizuka Ari’s TikTok vlogs reveals how Indonesian–English language use on social media shapes contemporary communication practices and youth linguistic identity. This research is motivated by the phenomenon of <em>Digital Multilingualism</em> in the digital era which has transformed social media into a space for identity negotiation through the use of language..The purpose of this study is to identify and classify Indonesian-English <em>code mixing patterns in Reizuka Ari's TikTok vlog.</em>.Using a descriptive qualitative method with Muysken's theoretical framework, this study analyzed 15 speech data from the video "SPILL RUMAH REIZUKA ARI".The results of the data analysis show that code mixing practices are dominated by the <em>Insertion</em> type at 53.33% (8 data), followed by <em>Alternation</em> at 26.66% (4 data), and <em>Congruent Lexicalization</em> at 20.01% (3 data). <em>The dominance of the Insertion</em> type can be seen in the use of single words or phrases such as " <em>before</em> ", " <em>literally</em> ", and " <em>dream house</em> " which are inserted without changing the basic structure of the Indonesian sentence. Another unique finding shows the existence of deep morphological integration through the provision of Indonesian affixes to foreign words, such as in the words " <em>heels</em> " and " <em>cealing</em> ".The conclusion of this study confirms that in spontaneous digital communication, language boundaries become very flexible and the use of mixed languages ??has become a new communicative competence to maintain the relevance and attractiveness of content in cyberspace.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nita Fauziahhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1157Gendered Perspectives in Pop Lyrics: A Linguistic Analysis of Bruno Mars’ “When I Was Your Man” and Miley Cyrus’ “Flowers”2026-01-31T13:04:22+00:00Melany Renita Manullangmybee4u01@gmail.comYuli Charina Br Ginting Maniksweetsdying@gmail.comRosa Darliana Br Tariganrosatarigan4@gmail.comJulia Carolina Br GintingLia.julia0930@gmail.comVivi Novalia Sitinjakvsitinjak86@gmail.com<p>This study is urgent because a gendered linguistic analysis of “When I Was Your Man” and “Flowers” reveals how popular music constructs, reinforces, or challenges contemporary gender perspectives and relationship narratives. This study examines gendered perspectives in pop song lyrics through a qualitative linguistic analysis of Bruno Mars’ “When I Was Your Man” and Miley Cyrus’ “Flowers.” The main research objectives are to identify and compare the linguistic features used to construct gendered voices in both songs and to analyze how emotional expression and self-identity are represented through these gendered perspectives. Song lyrics function as cultural texts that reflect social constructions of gender, particularly in emotional expression and identity formation. Previous studies have largely focused on female representation or gender bias using semiotic, discourse, or computational approaches, leaving a gap in comparative linguistic analysis across genders. To address this gap, this research applies lexical, semantic, and syntactic analysis within the framework of gender and language studies. The data consist of the official lyrics of the two songs, collected through documentation techniques and analyzed qualitatively. The findings reveal clear contrasts between male and female perspectives. The male perspective is characterized by lexical choices expressing regret and emotional vulnerability, semantically framing love as loss, and syntactically relying on reflective and conditional structures. In contrast, the female perspective emphasizes empowerment and independence through assertive diction, self-directed meaning, and simple declarative sentence patterns. This study contributes to gender and language research by offering a comparative linguistic perspective on how male and female identities are constructed in contemporary pop music.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Melany Renita Manullang, Yuli Charina Br Ginting Manik, Rosa Darliana Br Tarigan, Julia Carolina Br Ginting, Vivi Novalia Sitinjakhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1156Reduplication In Nurwina Sari’s Novel 3726 MDPL2026-01-31T12:56:32+00:00Yuli Charina Br Ginting Maniksweetsdying@gmail.comMelany Renita Manullangmybee4u01@gmail.comRosa Darliana Br Tariganrosatarigan4@gmail.comGeby Amanda Sihombingmidnightrain1608@gmail.comEsron Ambaritaesronambarita@gmail.com<p>This study is urgent because analyzing reduplication in Nurwina Sari’s novel 3726 MDPL reveals how morphological patterns contribute to meaning, style, and emotional expression in contemporary Indonesian literary discourse. Reduplication is one of the most productive morphological processes in Indonesian and plays a significant role in conveying grammatical as well as semantic meanings. This study aims to analyze the forms and functions of reduplication found in the novel 3726 MDPL. The research focuses on identifying the types of reduplication and explaining their semantic contributions within the narrative context. This study employs a qualitative descriptive method, using textual data taken from the novel as the primary source. The data were collected through careful reading and note-taking techniques, and analyzed based on morphological theories proposed by linguists such as Ramlan, Chaer, Katamba, and Aronoff. To ensure data validity, the identified reduplicated forms were repeatedly cross-checked through multiple readings and verified using consistent classification criteria grounded in established morphological theories. The findings reveal that full reduplication is the most dominant type found in the novel, followed by partial and affixed reduplication. Semantically, reduplication functions to express plurality, intensity, repetition, continuity, and emotional emphasis. The results of this study are compared with previous studies on reduplication, particularly those conducted by Ambarita (2023) and Ambarita and Sembiring (2025). This research contributes to morphological studies by highlighting the use of reduplication in modern Indonesian literary texts and demonstrating its stylistic and semantic significance.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Yuli Charina Br Ginting Manik, Melany Renita Manullang, Rosa Darliana Br Tarigan, Geby Amanda Sihombing, Esron Ambaritahttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1149Karakter Profil Pelajar Pancasila pada Cerita Rakyat Sasak Lombok Utara sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia2026-02-03T03:13:00+00:00Anggun Aulia Agustinaanggundaigun@gmail.comSyaiful Musaddatanggundaigun@gmail.comMuhammad Sobrianggundaigun@gmail.comMoh Irawan Zainanggundaigun@gmail.com<p>Urgensi dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai profil pelajar pancaila pada cerita rakyat dapat diimplementasikan menggunakan Bahasa Indonesia. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai karakter profil pelajar pancasila yang terkandung dalam cerita rakyat <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em>, mendeskripsikan bagaimana hubungan nilai karakter profil pelajar pancasila dalam cerita rakyat <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em> dengan bahan ajar dan mendeskripsikan struktur cerita <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em> sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi (telaah dokumen) yang dibantu dengan metode baca dan catat. Adapun teknik analisis data menggunakan metode <em>content analysis</em> (analisis isi). Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 kesimpulan. Pertama, ditemukan nilai-nilai karakter profil pelajar pancasila dalam cerita rakyat <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em> yakni Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Gotong royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif. Kedua, Nilai-nilai karakter profil pelajar pancasila dalam cerita rakyat <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em> memiliki hubungan dengan pembelajaran di kelas IV Bahasa Indonesia (Asal-Usul) dan dapat mendampingi cerita yang berjudul “Kerjasama yang Baik”. Ketiga, Struktur yang dimiliki oleh cerita rakyat <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em> sudah lengkap yakni berupa orientasi, komplikasi dan resolusi. Oleh karena itu, cerita rakyat <em>“Anak Iyok Jangkar Kolo dait Raksasa”</em> layak dijadikan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran di Sekolah Dasar pada kelas 4.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Anggun Aulia Agustina, Syaiful Musaddat, Muhammad Sobri, Moh Irawan Zainhttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1098Strategi Public Relations dalam Menghadapi Fenomena Cancel Culture terhadap Artis Abidzar Al Ghifari dalam Film Business Proposal di Media Sosial2025-12-27T11:53:36+00:00Maulida Azzahra Putrimaulida.azzahra.putri24147@mhs.uingusdur.ac.idElliza Tiffany Avvendyelliza.tiffany.avvendy24152@mhs.uingusdur.ac.idSiti Solekhahsiti.solekhah24154@mhs.uingusdur.ac.idDwi Novaria MisidawatiDwi.novaria.misidawati@uingusdur.ac.id<p>Fenomena <em>cancel culture</em> di media sosial menjadi tantangan besar bagi figur publik karena dapat menyebar cepat dan memengaruhi citra serta reputasi mereka secara signifikan. Abidzar Al Ghifari sebagai seorang artis muda turut merasakan dampaknya, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang efektif untuk mengatasi krisis reputasi yang muncul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi public relations yang diterapkan dalam merespons <em>cancel culture</em> yang menimpa Abidzar Al Ghifari di media sosial. Metode penelitian ini menggunakan studi kepustakaan (<em>literature review</em>). peneliti menelaah berbagai konsep kunci dalam ilmu komunikasi, terutama teori-teori yang berkaitan dengan <em>crisis management, image restoration, strategic communication</em>, dan digital reputation managemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terbuka, klarifikasi yang tepat waktu, serta pemanfaatan media sosial secara hati-hati merupakan langkah penting dalam memulihkan kepercayaan publik. Selain itu, kolaborasi dengan manajemen serta penguatan citra positif juga menjadi faktor penentu dalam mempertahankan reputasi seorang artis di tengah arus opini publik yang sangat dinamis. Temuan ini menegaskan betapa pentingnya penerapan strategi komunikasi yang adaptif dan terukur dalam menghadapi krisis reputasi, terutama di era digital yang penuh dengan dinamika cepat dan perubahan opini yang tidak terduga. Strategi komunikasi yang adaptif memungkinkan figur publik dan tim manajemen untuk cepat menyesuaikan pendekatan mereka sesuai dengan situasi yang berkembang, mengantisipasi reaksi publik, serta merespons isu dengan cara yang relevan dan efektif.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Maulida Azzahra Putri, Elliza Tiffany Avvendy, Siti Solekhah, Dwi Novaria Misidawatihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1132Studi Komparatif Pemikiran Al-Ghazali dan John Dewey dalam Konteks Pendidikan Kontemporer2026-01-16T13:14:27+00:00Siti Zainabzainabsiti303@gmail.comIstul Maulamnurrizki226@gmail.comMohammad Thoyib Maulanamohammadthoyib180@gmail.comAbdul Muhaimin Akhmadiahmadymuhaimin@gmail.comSiti Mahmudah Noorhayatinoorhayatimahmudah@gmail.com<p>Urgensi penelitian ini untuk menjembatani pemikiran pendidikan klasik Islam Al-Ghazali dan filsafat pendidikan progresif John Dewey guna merumuskan pendekatan pendidikan kontemporer yang holistik, kontekstual, dan relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan kontemporer menghadapi tantangan serius akibat globalisasi, digitalisasi, dan perubahan struktur sosial yang mendorong orientasi pragmatis sekaligus berpotensi mereduksi dimensi reflektif dan kemanusiaan. Artikel ini bertujuan menganalisis secara komparatif pemikiran Al-Ghazali dan John Dewey dalam konteks pendidikan kontemporer untuk menawarkan perspektif alternatif yang lebih holistik. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan sumber data primer berupa karya Al-Ghazali <em>Ihya’ ‘Ulum al-Din</em> dan <em>Ayyuha al-Walad</em>, serta karya John Dewey <em>Democracy and Education</em>, yang didukung oleh literatur ilmiah nasional dan internasional bereputasi dalam sepuluh tahun terakhir. Analisis dilakukan melalui pendekatan interpretatif, komparatif, dan kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses penyucian jiwa dan pembentukan akhlak yang berorientasi pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, sedangkan John Dewey menekankan pendidikan sebagai proses pertumbuhan berkelanjutan berbasis pengalaman, refleksi kritis, dan partisipasi demokratis. Meskipun berbeda secara epistemologis dan metafisik, kedua tokoh sama-sama menolak pendidikan yang bersifat mekanistik dan reduksionistik. Artikel ini menegaskan pentingnya sintesis nilai spiritual-etik dan pendekatan pragmatis-humanistik sebagai landasan pengembangan paradigma pendidikan kontemporer yang integratif, kontekstual, dan berorientasi pada pemanusiaan.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Siti Zainab, Istul Maula, Mohammad Thoyib Maulana, Abdul Muhaimin Akhmadi, Siti Mahmudah Noorhayatihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1110Meningkatkan Keterampilan Membaca Nyaring melalui pemanfaatan Media Cerita Bergambar pada Pelajaran Bahasa Indonesia2025-12-26T13:46:07+00:00Angga Saputraanggaqwertyuiop8@gmail.comAgustinus Medi Paduaagustinusmedipadua@gmail.comNova Meysila Saliyatinovameysilasaliyati@gmail.comWulan Awaliawulanawalia93@gmail.com<p>Penelitian ini berangkat dari kondisi rendahnya kemampuan membaca nyaring peserta didik kelas II SDN 170 Mulyasri, sehingga dibutuhkan strategi pembelajaran yang mampu menumbuhkan minat belajar, meningkatkan keaktifan siswa, serta mengoptimalkan hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Salah satu upaya yang diterapkan adalah penggunaan media cerita bergambar yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring siswa kelas II SDN 170 Mulyasri melalui pemanfaatan media cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitian seluruh siswa kelas II SDN 170 Mulyasri yang berjumlah 27 orang, terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data meliputi tes dan observasi, dengan instrumen berupa tes unjuk kerja membaca nyaring serta lembar observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif untuk melihat perkembangan kemampuan membaca nyaring siswa pada setiap siklus tindakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membaca nyaring setelah penerapan media cerita bergambar. Pada siklus I, sebanyak 19 siswa atau 70,73% mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 8 siswa atau 29,62% belum memenuhi kriteria ketuntasan. Pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas meningkat menjadi 22 orang atau 81,48%, sementara siswa yang belum tuntas menurun menjadi 5 orang atau 18,51%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media cerita bergambar efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca nyaring siswa kelas II SDN 170 Mulyasri.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Angga Saputra, Agustinus Medi Padua, Nova Meysila Saliyati, Wulan Awaliahttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1082Kritik Sosial terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Dampak Psikologisnya dalam Novel Rumah tanpa Jendela Karya Asma Nadia2025-12-19T15:17:20+00:00Putri Maisya SilviPutri.2022406403039@student.umpri.ac.idSiti Maimunahsiti.2022406403017@student.umpri.ac.idInanta Lubis Maulana Hanafiinanta.2022406403023@student.umpri.ac.idAndika Wahyudiandika.2022406403023@student.umpri.ac.id<p>Urgensi penelitian ini mengungkap realitas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang marak di masyarakat Indonesia, sekaligus mendorong kesadaran kolektif untuk pencegahan melalui analisis literatur yang mendalam. Abstrak: Penelitian ini menganalisis kritik sosial terhadap KDRT dalam novel Linda Christanty, Rumah Tanpa Jendela, melalui pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Metode Tinjauan Pustaka Sistematis digunakan untuk mengumpulkan, memilih, dan mensintesis berbagai sumber teoretis dan empiris terkait representasi KDRT, teori strukturalisme genetik, dan studi-studi terdahulu tentang karya Christanty, melalui pencarian kata kunci, kriteria inklusi-eksklusi, dan analisis tematik dari literatur terpilih. Pencarian literatur dilakukan pada Google Scholar, SINTA, Portal Garuda, dan Dimensions.ai menggunakan kombinasi kata kunci Boolean. Rentang waktu publikasi ditetapkan 2010–2024. Dari lebih 60 artikel awal, hanya 15 literatur primer yang memenuhi kriteria penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur naratif novel yang ditandai oleh siklus kekerasan dan metafora "rumah tanpa jendela" mencerminkan hubungan homologis dengan struktur masyarakat patriarki yang menormalkan dan menyembunyikan praktik KDRT. Tokoh-tokohnya muncul sebagai subjek kolektif yang merepresentasikan suara para korban, menjadikan karya ini sebuah ekspresi struktural dari visi dunia kritis yang mengubah pengalaman pribadi menjadi kritik sosial yang kuat terhadap struktur sosial yang opresif. Dengan demikian, novel ini hadir bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai dokumen sosiologis yang signifikan dalam membongkar wacana privatisasi kekerasan dalam rumah tangga</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Putri Maisya Silvi, Siti Maimunah, Inanta Lubis Maulana Hanafi, Andika Wahyudihttps://pusdig.my.id/dieksis/article/view/1080The Performative Failure of the “Great Russia” Narrative: A Speech Act Analysis and the Transformation of Ukrainian National Identity2025-12-19T15:01:30+00:00Nabilah Najwanabilah.najwa3488@student.unri.ac.id<p>This study is urgent because it reveals how the performative failure of the “Great Russia” narrative, rather than legitimizing domination, has unintentionally accelerated the consolidation and transformation of Ukrainian national identity, challenging prevailing assumptions about the power of hegemonic discourse in international politics. The Russia Ukraine conflict reflects not only a territorial dispute, but also a war of meaning through language and historical narratives. President Vladimir Putin often uses the narrative of ‘Greater Russia’ as a basis for political legitimacy to justify aggression against Ukraine. This narrative represents a form of speech act that aims to create a new political reality in which Ukraine is considered part of a larger Russian identity. However, the phenomenon that occurs is paradoxical: instead of strengthening Russia's cultural claims, the narrative fails performatively and triggers the consolidation of Ukrainian national identity. This study employs a qualitative-descriptive research design aimed at explaining why Russia’s “Greater Russia” narrative failed performatively and how it paradoxically strengthened Ukrainian national identity. This study aims to analyse the failure of Russian linguistic actions using a descriptive qualitative approach with the analytical tool of Speech Act theory from the Copenhagen School. Data was obtained from secondary sources such as official speeches, public opinion surveys (Pew Research, KIIS), and academic literature related to changes in Ukraine's national identity after 2014. The results of the study show that the failure of Russian political discourse was caused by changes in Ukraine's socio-political context, which eliminated Moscow's symbolic legitimacy. The ‘Greater Russia’ narrative lost its effectiveness because the intended audience rejected the constructed meaning, so that the political discourse no longer had performative power. This study confirms that in contemporary global politics, linguistic power cannot stand without audience recognition. Language, in the context of modern conflict, has become the main arena where legitimacy and identity are negotiated.</p>2026-03-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nabilah Najwa